Senin, 29 Januari 2018


TEKNIK PEMIJAHAN LELE SANGKURIANG

             Saat ini banyak berkembang cara pemijahan ikan lele, mulai dari cara alami hingga cara intensif. Hampir semua metode bisa dilakukan sendiri oleh para pembudidaya. Cara pemijahan ikan lele secara alami dilakukan dengan melepaskan ikan lele berpasangan dalam kolam yang telah dipersiapkan. Ikan lele yang siap kawin akan melakukan pembuahan dengan sendiri.
Sedangkan, cara pemijahan ikan lele intensif dilakukan dengan penyuntikan hormon, penyuntikan hipofisa, hingga pembuahan in vitro atau pembuahan dalam tabung reaksi yang dilakukan oleh manusia. Berikut beberapa metode pemijahan ikan lele yang bisa dilakukan para pembudidaya secara mandiri.
2.1. Pematangan Gonad
Pematangan gonad lele sangkuriang dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 50 m2, keringkan selama 2-4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam, isi air setinggi 50-70 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 300 ekor induk ukuran 0,7-1,0 kg, beri pakan tambahan berupa pellet khusus lele dumbo sebanyak 3% setiap hari.
Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
2.2. Pematangan di bak
Pematangan gonad juga bisa dilakukan di bak. Caranya, siapkan baktembok ukuran panjang 8m, lebar 4m dan tinggi 1m; keringkan selama 2-4 hari, isi air setinggi 80-100 cm dan alirkan secara kontinyu, masukkan 100 ekor induk, beri pakan tambahan (pellet) sebanyak 3 persen/hari.
Catatan: induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
2.3.Seleksi
Seleksi induk lele sangkuriang dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh.
Tanda induk betina yang matang gonad :
    - perut gendut dan tubuh agak kusam
    - gerakan lamban dan punya dua lubang kelamin
    - satu lubang telur satu lubang kencing
    - alat kelamin kemerahan dan agak membengkak
Tanda induk jantan yang matang gonad :
- gerakan lincah, tubuh memerah dan bercahaya
- punya satu lubang kelamin yang memanjang, kemerahan, agak membengkak dan berbintik putih (Basahudin, 2009).
2.4. Pemijahan dan Pemeliharaan Larva
Pemijahan ikan lele sangkuriang dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu : pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan (induced/artificial breeding). Pemijahan alami dilakukan dengan cara memilih induk jantan dan betina yang benar-benar matang gonad kemudian dipijahkan secara alami di bak/wadah pemijahan dengan pemberian kakaban. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara alami. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikkan hormon perangsang kemudian dipijahkan secara buatan.
Proses pemijahan untuk mengawinkan lele jantan dan lele betina tidaklah sulit. Pemijahan yaitu proses mempertemukan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Proses ini biasanya dilakukan pada kolam-kolam khusus pemijahan, dengan mencampurkan lele jantan dan lele betina yang sudah memenuhi syarat tertentu.
Syarat Indukan Jantan
  • Kepala induk jantan lebih kecil dari betinanya, serta tulang kepalanya gepeng
  • Warna kulit dada induk jantan lebih tua dibandingkan yang betina, serta kulitnya lebih halus daripada betina
  • Kelamin jantan menonjol, memanjang ke arah belakang dibelakang anus dengan warna kemerahan
  • Perut indukan jantan lebih langsing dan kenyal dibanding induk betina
  • Gerakan lele jantan lebih lincah dibandingkan yang betina
Syarat Indukan Betina
  • Kepalanya lebih besar dibandingkan induk betina
  • Warna klit dada lele betina lebih terang dibandingkan yang jantan
  • Kelamin induk betina berbentuk oval dan berwarna kemerahan, lubangnya lebar dan letaknya di belakang anus. Biasanya sel telur yang telah matang berwarna kuning
  • Untuk induk betina biasanya geraknya tidak selincah induk jantan
  • Perutnya lebih gembung dari induk jantan

Perutnya lebih gembung dari induk jantan Selama proses pemijahan indukan lele diberi makanan yang memiliki kadar protein cukup tinggi. Setelah diberikan protein yang cukup tinggi, induk betina siap untuk dibuahi. Sel telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi anakan lele setelah 24 jam. Setelah berumur satu minggu pisahkan hasil anakan dengan induk betina, sedangkan untuk pemindahan anakan setelah anakan berumur dua minggu.
  • A.Pemijahan Alami
    Pemijahan ikan lele secara alami
    Langkah pertama untuk pemijahan ikan lele secara alami adalah dengan memilih induk betina dan jantan yang sudah matang gonad. Pilih sepasang ikan lele yang memiliki bobot seimbang, tujuannya agar salah satu induk tidak ketakutan terhadap induk lainnya. Keseimbangan bobot sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemijahan.
    Sebelum proses pemijahan ikan lele dilakukan, siapkan terlebih dahulu kolam tempat memijah. Kolam yang ideal untuk pemijahan adalah panjang 2-3 meter, lebar 1-2 meter dan kedalaman 1 meter. Sebaiknya dasar kolam terbuat dari semen atau fiberglass agar mudah mengawasi telur hasil pembuahan. Sebelumnya kolam harus dikeringkan dan dijemur, kemudian diisi air sedalam 30-40 cm. Gunakan air yang berkualitas baik, bersih dan jernih.
    Pasang kakaban, bisa dibuat dengan ijuk yang dijepit dengan bambu seukuran area kolam. Gunakan pemberat agar kakaban tersebut tenggelam tidak mengapung di atas permukaan air. Kakaban berfungsi agar telur hasil pemijahan tidak berhamburan dan mudah dipindahkan. Buatlah kakaban sekokoh mungkin agar tidak berantakan oleh indukan yang aktif. Air untuk pemijahan ikan lele harus kaya oksigen, oleh karena itu berikan aerasi pada kolam pemijahan. Atau, apabila tersedia sumber air yang cukup buatkan aliran masuk dan keluar. Atur debit air sebanyak 2-3 liter per detik.
    Waktu yang tepat untuk memasukan indukan kedalam kolam pemijahan adalah sore hari. Biasanya ikan lele akan memijah sekitar pukul 23.00 hingga pukul 05.00. Selama proses pemijahan ikan lele kolam harus ditutup, untuk mencegah induk ikan loncat keluar kolam. Pada pagi hari, biasanya proses pemijahan sudah selesai. Telur akan menempel pada kakaban. Telur yang berhasil dibuahi berwarna transparan sedangkan yang gagal berwarna putih susu.
    Setelah proses pemijahan selesai, segera angkat induk dari kolam pemijahan ikan lele. Hal ini untuk menghindari telur disantap oleh induk ikan, karena setelah memijah induk ikan betina akan merasa lapar. Selanjutnya telur yang telah dibuahi ditetaskan. Penetasan bisa dilakukan di kolam pemijahan ataupun di tempat lain seperti akuarium, fiberglass atau kolam terpal. Selama proses penetasan suplai oksigen (aerasi) harus dipertahankan dan suhu distabilkan pada kisaran 28-29oC.
    Telur yang telah dibuahi akan menetas dalam 24 jam menjadi larva. Setelah itu segera pisahkan telur yang gagal atau larva yang mati untuk mencegah tumbuhnya jamur. Larva yang menetas akan bertahan tanpa pemberian makanan tambahan selama 3-4 hari. Selanjutnya lakukan proses pemesaran larva.
    Secara singkat langkah-langkah pemijahan ikan lele Sangkuring secara alami adalah sebgai berikut:
    - Siapkan bak berukuran panjang 2m, lebr 1m, dan tinggi 0,4 m
    - Keringkan selama 2-4 hari
    - Isi air setinggi 30 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan
    - Pasang hapa halus seusai ukuran bak
    - Masukkan ijuk secukupnya
    - Masukkan 1 ekor induk betina yang sudah matang gonad pada siang atau sore hari
    - Masukkan pula 1 ekor induk jantan
    - Biarkan memijah
    - Esok harinya tangkap kedua induk dan biarkan telur menetas di tempat itu.
    Hasil pemijahan alami lele sangkuriang biasanya kurang memuaskan. Jumlah telur yang keluar tidak banyak.
    B. Pemijahan Semi Alami
    - Perbandingan induk jantan dan betina 1:1 baik jumlah maupun berat
    - Penyuntikkan langkahnya sama dengan pemijahan buatan
    - Pemijahan langkahnya sama dengan pemijahan alami
    Penyuntikkan dengan ovaprim
    • Penyuntikkan adalah kegiatan memasukkan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormon perangsang yang digunakan adalah ovaprim. Caranya, siapkan induk betina yang sudah matang gonad; sedot 0,3 mil ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikkan ke dalam tubuh induk tersebut; masukkan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 jam. 



Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)



CBIB, sanggupkah merubah budaya?
Sebenarnya, apa yang diminta oleh negara-negara pengimpor produk perikanan adalah sesuatu yang sepele. Yaitu mereka hanya ingin yakin bahwa produk yang mereka impor (makan) adalah produk yang higienis, sehat dan bebas dari segala macam penyakit dan zat berbahaya. Cuma itu doang koq. Sesuatu yang enteng dan rasional kan?!
Namun, konsekuensinya bagi negara kita cukup merepotkan semua orang, sehingga hampir semua lapisan harus turun tangan. Mulai dari penyusunan peraturan di tingkat menteri sampai implementasi di lapangan. Karena bagi kita, ternyata hal itu bukan persoalan mudah, tapi sebuah perosalan besar yang menyangkut perubahan budaya bangsa. Ya, perubahan karakter budaya bangsa untuk melakukan kegiatan budidaya perikananan dengan baik yang meliputi perubahan budaya higienis, budaya prosedural dan budaya tulis menulis laporan (pendokumentasian).
Kalau boleh jujur, justru ketiga hal itulah, yaitu budaya higienis, budaya prosedural dan budaya tulis menulis laporan, bukanlah sesuatu yang menjadi kebiasaan umumnya masyarakat kita, khususnya para pembudidaya ikan. Sebut saja sampah, kebersihan toilet, baju yang bersih, selalu bekerja dengan sepatu bot dan sarung tangan, bahkan kambing yang masuk areal budidaya adalah bagian yang masuk penilaian CBIB. Belum lagi prosedur pemberian pakan, panen, pengangkutan ke atas kendaraan, dll semua akan dinilai. Terakhir, kebiasaan mencatat, seperti kapan beli pakan, apa merek dan jenisnya, berapa jumlahnya, jam berapa, siapa petugasnya, juga akan dinilai. Hhmm….repot amat yach….
Akhirnya, CBIB bukan lagi merupakan hal yang ringan bagi kita, tapi menjadi sesuatu yang agung dan menghebohkan, karena hal itu semua berkaitan dengan perubahan mental budaya kita. Ini merupakan tantangan bagi semua lapisan masyarakat perikanan, baik di pusat dan daerah, pengusaha besar dan kecil, peneliti dan praktisi, kalau memang kita masih menghendaki produk perikanan kita tetap diterima oleh negara-negara maju.

Apa itu CBIB?
Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) adalah terjemahan dari Good Aquaculture Practices (GAP). Peng-Indonesian-an istilah ini dimaksudkan agar para pembudidaya ikan lebih mudah mengingat dan menyebutnya.
GAP merupakan prasyarat yang diminta oleh negara-negara pengimpor ikan seperti Uni Eropa, Amerika, Australia dan Jepang. Pada awalnya mereka hanya meminta produk perikanan kita memenuhi standar higienitas dan kesehatan saja. Sehingga para eksportir cukup melakukan uji sampel, yaitu uji kadar antibiotik, kandungan zat-zat kimia tertentu, virus dan penyakit. Apabila dinyatakan bersih, maka produk tersebut siap diekspor.
Namun prasyarat itu sekarang lebih diperketat. Mereka tidak hanya memprasyaratkan uji sampel, namun mereka meminta agar produk itu diproduksi melalui serangkaian proses yang higienis, sehat, dan mengikuti prosedur baku yang ditetapkan, serta semua proses itu harus terdokumentasi dengan baik dalam sebuah logbook. Sejak itulah maka istilah GAP atau CBIB mulai berkembang.
Pada prinsipnya, sertifikat CBIB adalah untuk menilai sebuah unit usaha apakah mengikuti proses budidaya ikan yang baik atau tidak. Proses budidaya itu dinilai secara komprehensif mulai dari penyiapan lahan sampai pengepakan. Dan pada setiap prosesnya mengikuti Standar Prosedur Operasional (SPO) dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Berikut adalah hal-hal yang dinilai untuk mendapatkan sebuah sertifikat CBIB:
1. Lokasi 10. Penggunaan es dan air
2. Suplai air 11. Pemanenan
3. Tata letak dan disain 12. Penanganan hasil panen
4. Kebersihan fasilitas dan perlengkapan 13. Pengangkutan
5. Persiapan wadah untuk penebaran 14. Pembuangan limbah
6. Pengelolaan air 15. Pendokumentasian dan pencatatan
7. Benih 16. Tindakan perbaikan
8. Pakan 17. Pelatihan
9. Obat ikan, bahan kimia berbahaya 18. Kebersihan personil
Ekspor di Masa Depan

Di masa yang akan datang, teorinya, produk-produk perikanan tidak akan dengan mudah begitu saja diekspor ke luar negeri. Minimal setiap produk perikanan harus dapat menunjukkan 3 (tiga) buah sertifikat, yaitu:

1. Sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik)
2. Sertifikat CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik)
3. Sertifikat Kesehatan (Health Certificate)

Artinya, dengan mengantongi ketiga sertifikat itu, berarti produk yang akan diekspor benar-benar dihasilkan dari benih-benih yang diproduksi oleh panti pembenihan yang bersertifikat CPIB, kemudian benih itu telah dibesarkan oleh sebuah perusahaan atau unit usaha yang memenuhi standar baku budidaya yang dibuktikan dengan sertifikat CBIB, serta produk tersebut telah diuji dan dinyatakan bebas dari penyakit, virus berbahaya atau zat-zat kimia yang terlarang yang dibuktikan dengan health certificate.
Inilah yang mereka namakan food security (keamanan pangan) dimana pengawasan terhadap makanan betul-betul dilakukan secara berlapis. Bahkan nanti, lebih ekstrim lagi semua barang atau bahan yang digunakan selama proses produksi pun harus berkualitas baik dan bersertifikasi. Misalnya air tawar atau es yang digunakan selama proses produksi juga harus didatangkan dari pabrik atau perusahaan yang bersertifikat.
Namun semua itu masih sekedar wacana, kok... Pada praktiknya belum seseram itu, karena sampai saat ini sertifikat CBIB yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) pun baru sekitar 148 buah saja di seluruh Indonesia. Itu pun semuanya baru sebatas unit usaha pembesaran udang, dan baru 1 sertifikat untuk budidaya lobster.Sertifikasi CBIB ini memang sedang digenjot oleh DJPB, setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: Per.02/Men/2007 tentang Persyaratan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Pembudidaya ikan yang telah mengantongi sertifikat CBIB berarti telah memberikan jaminan keamanan pangan (food security) terhadap konsumen untuk mewujudkan sebuah generasi dunia yang higienis dan sehat.

Budidaya Lele Sangkuriang



Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha ikan

Datang sebagai lele introduksi dari Taiwan pada 1984, produktivitas lele dumbo kini terus merosot. Saat pertama kali dibudidayakan, peternak di tanahair bersukacita lantaran ukuran konsumsi 10-15 ekor/kg didapat lewat budidaya selama 70 hari. Belakangan untuk mencapai ukuran serupa waktunya molor hingga 100 hari. Perkawinan sedarah-inbreeding-ditengarai menjadi pemicu rendahnya laju pertumbuhan. 'Banyak peternak mengeluh, padahal pasar lele sedang bagus,' kata Mohamad Sambas, pengelola kawasan Minapolitan Lele di Desa Kracak, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Sebab itu sangkuriang menjadi sandaran baru. Tumbuhnya pesat. 'Dua kali lebih cepat daripada dumbo,' kata Yanto Herman Wijaya, peternak di Desa Citelang, Kotamadya Sukabumi. Tengoklah ukuran 10-15 ekor/kg dicapai setelah bibit berukuran 5-7 cm dipelihara selama 49-51 hari. Tingkat kematian selama pembesaran juga kecil, kurang dari 10%; dumbo 20%. Pantas Yanto tak ragu mengganti semua dumbo dengan sangkuriang di petak-petak kolamnya yang total seluas 1 ha. 'Omzetnya tetap, tapi perolehan rupiah lebih cepat 1,5 bulan,' kata Yanto yang beromzet Rp30-juta/bulan itu.

Adalah Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi yang membidani kelahiran sangkuriang. Lele berkulit kelabu itu diperoleh dari silangan jantan dumbo generasi ke-6 (F6) dari Majalaya, Jawa Barat, dengan induk betina generasi ke-2 (F2). Jantan F6 dipilih berbobot 0,5-0,75 kg dengan panjang 30-35 cm. Betina F2 bobotnya 0,7-1 kg sepanjang 25-30 cm. Hasil anakan jantan kemudian diseleksi dan dikawinkan kembali dengan betina F2. 'Sangkuriang diperoleh setelah 4 tahun penyilangan,' kata Sambas yang juga peneliti lele dari BBPBAT itu.

Sifat genetik dumbo memang memungkinkan diperbaiki. Fekunditas misalnya, setelah diperbaiki lahir sangkuriang yang mencapai 60.000-80.000 telur/kg bobot induk; dumbo 30.000-50.000. Ini artinya jumlah produksi bibit sangkuriang berlipat dua. Kelangsungan hidup larva juga meningkat 90-95%; dumbo 50-60%. Keunggulan lain, sangkuriang memiliki FCR 0,8. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging dibutuhkan 0,8 kg pakan. Bandingkan dengan FCR dumbo yang lebih dari 1.

Soal daya tahan, sangkuriang mampu meredam serangan bakteri Trichodina sp, Aeromonas hydrophilla, dan Ichthyopthirius sp. Padahal penyakit itu ditakuti peternak karena membuat kulit lele melepuh. Buktinya, 'Saat kolam berisi dumbo banyak mati, sangkuriang di kolam lain tetap sehat,' kata Yanto. Apalagi bila sanitasi lingkungan diperhatikan, dijamin penyakit-penyakit itu sulit mewabah.
Dengan kelebihan-kelebihan itu sangkuriang direkomendasikan untuk dipelihara. 'Sangkuriang sangat cocok dibudidayakan untuk skala komersial,' ujar Dr Ir Lenny S Syafei MS, direktur Usaha dan Budidaya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya DKP saat dijumpai Trubus di sela-sela acara Gerakan Tanam, Tebar, dan Pelihara di Bogor, November 2008 silam.

Banyak keunggulan bukan berarti sangkuriang mudah didapat. Ketersediaan bibit terbatas lantaran calon induk sulit diperoleh. Pengalaman Yanto yang juga pembibit, sulit mendapat betina F2 dan jantan F6 dumbo berkualitas. Makanya, 'Produksi bibit baru mencapai 100.000-400.000 ekor per bulan,' katanya. Jumlah itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri, belum dapat dijual pada peternak lain. 'Idealnya produksi bibit saya sekitar 1-juta/bulan,' katanya.

Untuk mengatasi kelangkaan bibit lele yang telah dilepas menjadi varietas unggulan nasional itu BBPBAT sudah menyebar indukan ke beberapa Unit Pembenihan Rakyat dan Balai Benih Ikan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Lampung. Beberapa pembibit swasta bersertifikat pun mulai menyediakan bibit sangkuriang. Bibit ukuran 2-3 cm dijual Rp35-Rp40/ekor; 3-5 cm Rp70-Rp75/ekor; dan 5-7 cm Rp115/ekor. Diharapkan tahun depan lele-lele sangkurianglah yang memenuhi kebutuhan warung-warung pecel lele di setiap penjuru kota.
(Andretha Helmina, http://74.125.153.132/search?q=cache:hjKEvqjvCmoJ:rumahtani.multiply.com/photos/album/43/Budidaya_Lele_Sangkuriang+Budidaya+lele+sangkuriang&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id)